Jakarta – Kebijakan pembatasan kendaraan dengan sistem ganjil-genap di Jakarta ditiadakan selama libur perayaan Tahun Baru Imlek dan berlaku hingga besok. Peniadaan ini dilakukan seiring penetapan hari libur nasional dan cuti bersama yang berdampak pada penurunan aktivitas masyarakat di Ibu Kota.
Sejak pagi, sejumlah ruas jalan utama Jakarta tampak lebih lengang dibandingkan hari kerja biasa. Lalu lintas mengalir lebih lancar, tanpa antrean panjang yang kerap menjadi pemandangan rutin di jam sibuk. Bagi sebagian warga, kondisi ini menghadirkan jeda langka dari kepadatan yang hampir selalu menyertai kehidupan perkotaan.
Ruang Bernapas bagi Kota
Libur Imlek membawa perubahan ritme Jakarta. Perkantoran banyak yang tutup, aktivitas bisnis melambat, dan sebagian warga memilih bepergian ke luar kota atau merayakan hari besar bersama keluarga. Dalam situasi ini, peniadaan ganjil-genap dinilai relevan dan proporsional.
Kebijakan tersebut juga menjadi bentuk penyesuaian terhadap kebutuhan mobilitas warga selama hari libur, sekaligus menjaga kelancaran arus lalu lintas tanpa harus membebani pengguna jalan dengan pembatasan tambahan.
Bagi pengemudi seperti Rudi, warga Jakarta Selatan, kondisi ini terasa signifikan. “Biasanya pagi sudah macet. Hari ini jalanan lebih manusiawi,” ujarnya sambil tersenyum.
Aspek Keamanan dan Ketertiban Lalu Lintas
Meski ganjil-genap ditiadakan, aparat tetap mengimbau pengendara untuk mematuhi aturan lalu lintas lainnya. Keamanan publik tetap menjadi prioritas, terutama di titik-titik yang berpotensi ramai seperti kawasan wisata, pusat perbelanjaan, dan area pecinan yang menjadi tujuan perayaan Imlek.
Petugas lalu lintas disiagakan untuk memastikan kelancaran dan mencegah potensi kecelakaan, terutama karena sebagian pengendara memanfaatkan jalan yang lengang untuk memacu kendaraan lebih cepat.
Dalam konteks ini, peniadaan ganjil-genap bukan berarti pengawasan longgar, melainkan penyesuaian kebijakan dengan tetap menjaga keselamatan bersama.
Warga dan Pilihan Mobilitas
Bagi sebagian warga non-Tionghoa, libur Imlek menjadi kesempatan beristirahat atau menikmati kota dengan suasana berbeda. Jalanan yang lebih lengang memberi ruang bagi aktivitas sederhana—mengantar keluarga, berkunjung ke sanak saudara, atau sekadar menikmati perjalanan tanpa tekanan waktu.
Sementara itu, bagi warga yang merayakan Imlek, kemudahan akses transportasi menjadi bagian penting dari perayaan. Mereka dapat bergerak lebih leluasa untuk bersilaturahmi tanpa harus memikirkan pembatasan kendaraan.
Kebijakan yang Bersifat Sementara
Pemerintah daerah menegaskan bahwa peniadaan ganjil-genap bersifat sementara dan akan kembali diberlakukan setelah masa libur berakhir. Warga diimbau untuk kembali menyesuaikan aktivitas dan memastikan kepatuhan terhadap aturan lalu lintas yang berlaku pada hari kerja berikutnya.
Kebijakan ini mencerminkan pendekatan adaptif dalam pengelolaan transportasi kota—menimbang kondisi sosial, kalender nasional, dan kebutuhan masyarakat.
Jakarta di Hari Libur
Di bawah langit Jakarta yang lebih tenang, libur Imlek memberi wajah lain bagi kota yang biasanya tergesa. Jalanan yang lapang, suara klakson yang jarang terdengar, dan langkah kaki yang lebih santai menjadi pengingat bahwa kota besar pun sesekali perlu bernapas.
Peniadaan ganjil-genap hingga besok bukan sekadar kebijakan teknis lalu lintas, melainkan bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara keteraturan, kenyamanan, dan kemanusiaan di ruang publik Jakarta.
