Farhan: Pembongkaran Teras Cihampelas Dibiayai Pemprov Jabar

Bandung  (initogel login) — Di antara kenangan swafoto dan hiruk-pikuk wisata, Teras Cihampelas menyimpan cerita tentang perubahan wajah kota. Kini, cerita itu memasuki babak baru. Farhan menegaskan bahwa pembongkaran Teras Cihampelas akan dibiayai oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, sebuah keputusan yang dimaksudkan untuk menata ulang ruang publik dengan mengutamakan keamanan, kenyamanan, dan kemanusiaan warga.

Pernyataan ini datang di tengah diskusi publik yang hangat—antara nostalgia dan kebutuhan nyata kota yang terus bergerak. Farhan menekankan, pembongkaran bukan soal menghapus masa lalu, melainkan memulihkan fungsi ruang kota agar lebih aman dan inklusif.


Mengapa Dibongkar: Keamanan Publik Jadi Alasan Utama

Menurut Farhan, evaluasi teknis menunjukkan berbagai persoalan keselamatan dan fungsi. Struktur yang menua, perawatan yang kompleks, serta keterbatasan aksesibilitas dinilai berisiko jika dipertahankan tanpa perubahan besar. Dalam konteks keamanan publik, pemerintah memilih langkah tegas agar potensi bahaya tidak menunggu korban.

“Ruang publik harus melindungi penggunanya,” ujar Farhan. Prinsip ini menempatkan keselamatan pejalan kaki, pengendara, dan pedagang sebagai prioritas—di atas pertimbangan estetika semata.


Pendanaan oleh Pemprov Jabar

Farhan memastikan biaya pembongkaran ditanggung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, sehingga tidak membebani APBD Kota Bandung. Skema ini dipilih agar proses berjalan tertib, terencana, dan akuntabel, sekaligus memberi ruang fiskal bagi kota untuk fokus pada penataan lanjutan kawasan Cihampelas.

Pendanaan provinsi juga membuka ruang koordinasi lintas level pemerintahan—penting untuk proyek yang berdampak regional dan menyangkut arus wisata.


Human Interest: Kenangan, Nafkah, dan Transisi

Bagi warga, Teras Cihampelas bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah tempat bekerja, berjualan, dan berjumpa. Sejumlah pedagang mengaku campur aduk—sedih karena kehilangan lokasi, namun berharap penataan baru memberi kepastian yang lebih baik. “Kami ingin tetap bisa berusaha, tapi aman dan rapi,” kata seorang pedagang.

Farhan menegaskan komitmen pendampingan transisi: penataan ulang lokasi usaha, komunikasi intensif, dan solusi bertahap agar mata pencaharian tidak terputus. Di sinilah kebijakan diuji—mampu melindungi ruang hidup warga, bukan sekadar memindahkan masalah.


Aspek Hukum dan Tata Kelola

Pembongkaran akan mengikuti prosedur hukum dan standar keselamatan kerja. Pengaturan lalu lintas, perlindungan pekerja, serta mitigasi dampak lingkungan menjadi bagian dari rencana. Transparansi anggaran dan jadwal juga ditekankan agar publik mendapat kepastian.

Farhan menilai tata kelola yang rapi adalah kunci menjaga kepercayaan. “Keputusan besar harus dijalankan dengan tertib dan terbuka,” ujarnya.


Menata Ulang Cihampelas: Aksesibilitas dan Inklusivitas

Pasca pembongkaran, kawasan Cihampelas diarahkan kembali pada fungsi ramah pejalan kaki, aksesibilitas difabel, dan keterhubungan ruang publik yang menyatu dengan aktivitas ekonomi lokal. Pemerintah kota ingin memastikan ruang jalan kembali bernapas—lebih lapang, aman, dan nyaman.

Penataan ini diharapkan mengurangi konflik ruang antara pejalan kaki dan kendaraan, serta meningkatkan kualitas pengalaman warga dan wisatawan.


Bukan Menghapus, Melainkan Memulihkan

Farhan menegaskan, langkah ini bukan penyangkalan atas sejarah Teras Cihampelas. Kota menghormati fase-fase perkembangannya. Namun, kota juga harus berani beradaptasi ketika bukti menunjukkan kebutuhan perubahan.

Dalam bahasa kebijakan, pembongkaran adalah bagian dari siklus perencanaan kota—evaluasi, koreksi, dan perbaikan berkelanjutan.


Penutup: Kota yang Aman, Manusia yang Diutamakan

Dengan pembiayaan dari Pemprov Jabar, pembongkaran Teras Cihampelas menandai upaya kolaboratif untuk menata Bandung ke depan. Di tengah perdebatan, satu benang merah ditegaskan: keselamatan dan martabat manusia adalah tujuan akhir.

Kota hidup dari ruang-ruangnya. Ketika ruang ditata dengan empati dan akal sehat, harapannya sederhana—warga merasa aman, pelaku usaha tetap hidup, dan Bandung melangkah dengan lebih bijak.