Kodam Merdeka: 14 Orang Meninggal Usai Banjir Bandang Pulau Siau, Sulawesi Utara

Pulau Siau, Sulawesi Utara (initogel) — Hujan telah reda, tetapi duka masih menggantung di udara. Di antara lumpur yang belum mengering dan rumah-rumah yang rusak, warga Pulau Siau mencoba berdiri kembali. Kodam Merdeka menyampaikan bahwa 14 orang meninggal dunia akibat banjir bandang yang menerjang pulau kecil di wilayah Sulawesi Utara tersebut.

Angka itu bukan sekadar data. Ia adalah nama, keluarga, dan cerita yang terhenti mendadak—di sebuah pulau yang biasanya tenang, di mana laut dan gunung hidup berdampingan dengan damai.

Banjir Datang Tanpa Banyak Waktu

Banjir bandang dilaporkan terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah hulu. Air bercampur material kayu dan batu meluncur cepat, menerobos permukiman yang berada di jalur aliran.

“Air datang sangat deras,” kata Yohan, warga setempat. “Kami hanya sempat menyelamatkan diri.”

Dalam hitungan menit, rumah terendam, jalan tertutup, dan aliran listrik terputus. Sebagian warga terjebak, sebagian lain terpisah dari keluarganya.

Upaya Pencarian dan Evakuasi

Sejak kejadian, personel TNI bersama aparat setempat bergerak melakukan pencarian dan evakuasi. Medan yang sulit dan akses terbatas menjadi tantangan tersendiri, namun operasi terus dilakukan dengan mengedepankan keselamatan.

Kodam Merdeka menyebutkan bahwa korban ditemukan di beberapa titik, termasuk di sekitar aliran sungai dan permukiman yang terdampak paling parah. Proses identifikasi dilakukan dengan melibatkan keluarga dan perangkat desa.

“Kami fokus mengevakuasi korban dan membantu warga,” ujar seorang perwira di lapangan. “Ini soal kemanusiaan.”

Warga Mengungsi, Pulau Berduka

Sejumlah warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Balai desa dan fasilitas umum dijadikan lokasi sementara untuk berlindung. Di sana, anak-anak duduk berdekatan, orang tua menenangkan satu sama lain, dan relawan membagikan kebutuhan dasar.

“Pulau ini kecil, kami saling kenal,” kata Maria, warga yang rumahnya terdampak. “Kalau satu keluarga berduka, kami semua merasakannya.”

Peran TNI di Tengah Krisis

Selain pencarian korban, personel TNI membantu membuka akses yang tertutup material banjir, mendirikan tenda darurat, serta menyalurkan bantuan logistik. Kehadiran aparat di lapangan memberi rasa aman bagi warga yang masih trauma.

Kodam Merdeka menegaskan komitmen untuk terus mendampingi proses tanggap darurat hingga kondisi dinyatakan aman dan stabil.

Bencana dan Kerentanan Wilayah

Pulau Siau dikenal dengan kontur berbukit dan aliran sungai yang pendek namun curam. Kondisi ini membuat wilayah rentan terhadap banjir bandang saat hujan ekstrem. Para pemerhati kebencanaan mengingatkan pentingnya mitigasi dan penataan ruang yang lebih adaptif.

“Bencana seperti ini sering datang cepat,” ujar seorang relawan. “Kesiapsiagaan adalah kunci.”

Duka yang Menyatukan

Di tengah kesedihan, solidaritas tumbuh. Warga saling membantu membersihkan lumpur, membagi makanan, dan menguatkan keluarga korban. Doa bersama digelar sederhana—di teras rumah yang tersisa, di bawah langit yang kini lebih tenang.

Empat belas nyawa telah pergi. Namun bagi warga Pulau Siau, ingatan tentang mereka akan tetap hidup—di laut yang sama, di jalan yang sama, di rumah yang kelak dibangun kembali.

Harapan di Tengah Puing

Saat operasi tanggap darurat berlanjut, harapan sederhana mengemuka: agar tak ada lagi korban, agar bantuan tiba tepat waktu, dan agar pulau kecil ini bisa pulih perlahan.

Bagi Kodam Merdeka dan seluruh pihak yang terlibat, tragedi ini adalah panggilan untuk terus hadir. Karena di balik setiap bencana, yang paling penting dijaga adalah nyawa dan martabat manusia.

Pulau Siau berduka. Indonesia berempati. Dan dari duka itu, tekad untuk bangkit perlahan mulai menyala.