Jakarta (initogel daftar) — Di ruang yang dipenuhi semangat dan tekad, pesan itu disampaikan dengan suara tenang namun penuh keyakinan: jangan gentar. Menjelang keberangkatan kontingen Indonesia ke ASEAN Para Games 2025, Dito Ariotedjo, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), memberikan dorongan moral yang lebih dari sekadar motivasi pertandingan. Ia berbicara tentang keberanian, martabat, dan kemanusiaan—nilai yang melekat kuat pada setiap atlet para.
Pesan tersebut menjadi penguat di tengah persiapan panjang, latihan melelahkan, dan beban ekspektasi yang tak ringan. Bagi para atlet, kalimat “jangan gentar” bukan sekadar slogan, melainkan pengingat akan perjalanan yang telah mereka tempuh untuk sampai di titik ini.
Keberanian yang Dibangun dari Proses
Menpora menekankan bahwa para atlet tidak berangkat dengan tangan kosong. Mereka membawa disiplin latihan, data performa, serta pengalaman bertanding yang matang. “Kalian sudah melewati proses panjang. Percayalah pada kemampuan sendiri,” pesannya.
ASEAN Para Games bukan hanya arena kompetisi, tetapi juga ruang pembuktian bahwa olahraga disabilitas Indonesia tumbuh dengan sistem yang semakin profesional—dari pembinaan, sport science, hingga dukungan psikologis. Keberanian, dalam konteks ini, lahir dari kesiapan.
Human Interest: Perjalanan di Balik Medali
Setiap atlet para memiliki cerita yang berbeda—tentang kecelakaan, penyakit, atau kondisi lahir yang menantang. Namun satu benang merah menyatukan mereka: keteguhan untuk bangkit. Latihan dini hari, perjalanan jauh, dan keterbatasan fasilitas di masa lalu menjadi bagian dari cerita yang membentuk mental juara.
“Yang kalian bawa ke arena adalah kisah ketekunan,” ujar Menpora. “Itu kekuatan yang tak dimiliki semua orang.” Kata-kata ini menggema sebagai pengakuan atas kerja sunyi yang jarang terlihat kamera.
Keamanan Publik dan Martabat Atlet
Menpora juga menegaskan komitmen pemerintah terhadap keselamatan dan kenyamanan kontingen. Aspek kesehatan, keamanan perjalanan, serta dukungan ofisial menjadi perhatian utama. Atlet diminta fokus bertanding, sementara negara memastikan ekosistem pendukung berjalan.
Dalam perspektif kemanusiaan, pesan ini penting: atlet para berhak atas perlindungan, penghormatan, dan perlakuan setara. Prestasi tidak boleh dibayar dengan pengabaian keselamatan.
Sportivitas sebagai Bahasa Universal
“Menang itu tujuan, sportivitas itu kehormatan,” pesan Menpora. Ia mengingatkan agar para atlet menjunjung fair play, menghormati lawan, dan menjaga nama baik Indonesia. Di panggung regional, sikap dan etika sama berharganya dengan medali.
ASEAN Para Games menjadi ajang persaudaraan—tempat perbedaan disatukan oleh semangat olahraga. Kontingen Indonesia diharapkan menjadi teladan, baik di lintasan maupun di luar arena.
Target, Tekad, dan Keyakinan
Tanpa mengabaikan target prestasi, Menpora mengajak atlet untuk bertanding dengan hati yang tenang. “Jangan gentar oleh nama besar atau catatan lawan. Setiap pertandingan dimulai dari nol,” ujarnya. Fokus pada proses, bukan tekanan.
Pesan ini menyentuh inti psikologi atletik: keberanian terbaik lahir dari ketenangan dan keyakinan pada persiapan.
Mengibarkan Merah Putih dengan Kepala Tegak
Saat kontingen melangkah ke arena ASEAN Para Games 2025, mereka membawa lebih dari seragam dan bendera. Mereka membawa harapan jutaan orang—bahwa keterbatasan bukan penghalang, bahwa negara hadir, dan bahwa kemanusiaan menemukan panggungnya di olahraga.
“Berangkatlah dengan percaya diri,” tutup Menpora. “Bertandinglah dengan hati. Jangan gentar.”
Di sanalah pesan itu menemukan maknanya—menjadi nyala yang menemani setiap langkah, setiap start, dan setiap garis akhir.
